Kriinnggg ...... Alarm jam berbunyi menunjukkan pukul 07.00. Hari itu
adalah hari pertama Ferawan sekolah. Dia terbangun dengan semangat baru
dipagi pertama sekolah setelah melalui MOS(Masa Orientasi Siswa) selama 2
hari.
"Aku berangkat ya, Mi", ucap Ferawan setelah siap untuk berangkat ke sekolah.
"Makan dulu,Fer.", jawab mamanya Ferawan.
"Ga usah,Mi. Nanti beli aja di kantin, hehehe.", jawab Ferawan yang sudah siap berangkat ke sekolah.
"Ya sudah, hati-hati ya nak.", seru mama Ferawan
"Iya Mami", jawab Ferawan.
***
"Halo, Fer", ucap Candy. Candy adalah salah satu teman Ferawan dari SMP yang sama.
"Hai, Can", seru Ferawan kepada Candy. Ferawan adalah laki-laki yang sangat akrab kepada siapa saja tetapi tidak kepada orang yang baru dia kenal. Di SMP Ferawan lebih akrab dengan teman-teman perempuannya daripada teman-teman lelakinya, karena Ferawan berpikir bahwa teman-teman lelakinya memiliki sifat yang kurang Ferawan sukai.
"Asik nih kita uda SMA. Lo pake celana panjang abu-abu, gue pake rok abu-abu. Asik ya. Hahah :)", ujar Candy.
"Ya begitu lah hahaha. Asik banget. Gue uda ngendarain motor loh", ucap Ferawan.
"Iyah ? Cieeeee. Asik dong bisa kemana aja hehehe", jawab Candy.
"Gak juga sih Can. Masih belum punya SIM jadi enggak bisa kemana-mana. Mungkin cuma pulang pergi ke sekolah", kata Ferawan dengan muka lemas.
"Hahaha. Iya sih ya udah lah enggak apa. Yang penting ke sekolah ngendarain motor. Hehehe. O iyah. Kita 1 kelas lagi gak ya?", ucap Candy. Saat kelas IX, Candy dan Ferawan berada di kelas yang sama.
"Haha iya iya. Semoga aja sih. Semoga sekelas juga sama si Fenny.", ucap Ferawan. Fenny adalah salah satu teman Ferawan yang cukup dekat. Mereka dekat karena mereka menjadi panitia YearBook atau buku tahunan di SMP dan mereka juga satu kelas di SMP.
"Amin deh amin. Hahaha", ujar Candy.
Mereka berdua berdiri bersama di depan pintu masuk ke sekolah bersama siswa-siswi SMA baru yang mereka tidak kenal. Asing, perasaan itu yang muncul dibenak Ferawan saat melihat siswa-siswi yang baru tersebut.
Ferawan masuk kedalam sekolah untuk melihat daftar dimana kelasnya berada selama satu tahun kedepan. Dia juga melihat nama dimana Candy, Fenny, dan teman-temannya diposisikan di kelas berapa. Nama yang pertama ditemukan adalah Fenny di X4 dan Candy di X6. Setelah lama mencari namana akhirnya Ferawan menemukan namanya di kelas X5. Dia satu kelas dengan Rinaldi. Rinaldi adalah salah satu teman kecil Ferawan dari kelas 4 SD. Rinaldi adalah laki-laki yang sesuai kriteria untuk dijadikan teman oleh Ferawan.
"Yah kita enggak sekelas,Can", ucap Ferawan dengan tidak bersemangat.
"Yahhhh. Sekelas juga enggak sama Fenny?",tanya Candy.
"Enggak dia X4. Gue X5. Lo X6. Pisah semua tapi kelas kita bersebelahan kok.", jawab Ferawan.
"Iya sihh. Tapi kan enggak asik. Enggak seru jadinya", ucap Candy.
"Iya sihh tapi mau gimana? Kita enggak bisa apa-apa", jawab Ferawan.
"Ya udalah kita jalanin aja dulu Can, Fer", ucap Fenny yang tiba-tiba berada di sebelah Candy.
"Iya deh.", ucap Candy dan Ferawan.
Bel berbunyi dan akhirnya mereka masuk ke kelas masing-masing.
***
Beberapa bulan setelah masuk sekolah. Fenny, Ferawan, dan Rima selalu bertiga. Rima juga teman Ferawan yang dekat karena satu kelas dan menjadi panitia YearBook. Mereka seperti tiga serangkai. Setiap istirahan makan bekal bertiga, Jajan di Kantin bertiga dan selalu bertiga. Tapi akhirnya Rima memiliki teman-teman baru di kelasnya dan mereka selalu bertigak yang dinamani Jenongbelle. Fenny juga memiliki kelompok pertemanan di kelasnya yang berinama Upilers. Tetapi tidak dengan Ferawan. Ferawan sulit sekali untuk bergaul dengan orang yang baru dikenalnya. Ferawan juga dekat dengan Candy. Tetapi setelah Candy memiliki kekasih kedekatan itu sedikit sirnah. Awalnya Ferawan mencoba untuk dekat dengan Rinaldi dan teman-teman sekelasnya seperti Fanny, Irene, dan Michelle. Mereka berteman. Tapi pertemanannya serasa berbeda. Terkadang Ferawan merasa kesepian tetapi perasaan itu tidak dia pedulikan sama sekali. Ferawan anggap perasaan kesepian itu biasa saja karena dia berpikir bahwa mereka telah SMA dan memiliki teman-teman baru.
***
Setelah 10 bulan menjalani pendidikan di SMA Thomas Aquino. Ferawan dan teman-teman satu angkatannya akan menjalani outbound di situ gintung Ciputat Tangerang. Dalam perjalanan ke tempat outbound yang menggunakan bus, Ferawan duduk sendiri dengan sedikit percakapan. Di bus Ferawan sangat diam dan tidak banyak bicara. Itu karena dia merasa kesepian dan sangat sedih entah apa penyebabnya yang membuatnya sedih. Tetapi Ferawan tidak pernah bisa untuk menangis. Saat sesampainya di Situ Gintung, angkatan kelas X berjalan kedalam tempat berkumpul untuk berkenalan dengan pembimbing dan membuat kelompok. Ferawan berkelompok dengan Fenny, Renardi, Arnold, Fanny, Bakpao, Anne, Ezra, Audrey, Stefan, Enru, Echi, Alvian, Karen, Nia. Saat melakukan outbound Ferawan selalu bersemangat untuk permainan yang berada diketinggian seperti, Flying fox, Elvis walk, dan Balance beam. Ferawan sangat bersemangat dengan permainan-permainan tersebut. Saat outbound Ferawan selalu bersama-sama dengan Fenny. Berjalan bersama dengan Fenny, makan, duduk, menceritakan sesuatu sampai dengan jalan sehat memutari daerah Situ Gintung. Itu adalah hal yang selalu diinginkan oleh Ferawan. Kebersamaan dengan sahabat. Keluhan-keluhan yang terungkap oleh Fenny saat jalan sehat. Segala sesuatu yang berhubungan dengan kebersamaan yang membuat Ferawan senang. Saat malam terakhir di Situ Gintung, dilaksanakan renungan. Ferawan berfikir bahwa dia memiliki teman yang peduli dengannya meskipun tidak selalu bersama, tapi dia senang dengan sahabat-sahabat yang ada dan peduli dengan dirinya. Tapi Ferawan berpikir betapa bodohnya dia karna telah berpikir kalau dia tidak memiliki teman. Saat setelah renungnan selesai Ferawan bangkit berdiri dan mencari Fenny dan Rima untuk menghampiri mereka. Tetapi sebelum Ferawan menghampiri mereka berdua, Fenny dan Rima menghampiri Ferawan dan memeluk Ferawan. Ferawan memeluk mereka berdua.
"Sorry ya Fer, Fen kalau gue ada salah selama ini", ucap Rima sambil menangis.
"Gue juga minta maaf ya Fer, Rim kalau emang gue ada salah sama kalian", ucap Fenny.
"Gue juga minta maaf sama kalian kalo gue ada salah. Kalo gue uda berperilaku buruk, uda buat kalian kesel. Maaf ya.", ucap Ferawan yang air matanya terbendung di matanya.
Mereka bertiga berpelukan diantara siswa-siswi yang saling meminta maaf kepada temannya. Meskipun memiliki teman-teman baru mereka tetap saja berteman. Mungkin.
***
Hari terakhir di Situ Gintung, diadakan jalan sehat memutari danau Situ Gintung yang cukup panjang. Ferawan dan Fenny berjalan beriringan. Perjalanan yang biasa saja berubah menjadi menyebalkan karena tanah merah yang selalu menempel di alas kaki.
"Ah maleskan tanah liatnya nempel-nempel di sendal ahh", ocehan Fenny.
"Ya udalah kotor dikit enggak apa. Sekali-kali ini. Jarang-jarang kan kayak begini. Hahaha", ujar Ferawan.
"Iya sih. Tapi kan males bersihinnya", sahut Fenny.
"Ya udah enggak usah dibersihin. Hahaha.", ejek Ferawan.
"Ish, ya udah sih", gerutu Fenny.
"Kan bercanda penny cuancuann", bela Ferawan. Penny cuancuann sebutan yang selalu diucapkan oleh Ferawan kepada Fenny.
"Iya iya becanda", gerutu Fenny.
Ferawan tidak menjawab apapun hanya diam dan terus berjalan.
"Dih tungguin", teriak Fenny.
"Lama si woo. Makanya jangan cuma ngambek", ejek Ferawan.
"Siapa yang ngambek kali dih", ucap Fenny
"Elo lah. Masa iya Mr. Joko?", jawab Ferawan
"Iya juga sih. Tp gue ga ngambek.", ucap Fenny
"Boong. Gue tau kok.", jawab Ferawan
"Tapi gue enggak ngambek", ujar Fenny
"Ya uda deh kalo begitu. Ayo jalan lagi. Hati-hati.", jawab Ferawan.
Fenny tidak menjawab. Ferawan dan Fenny meneruskan perjalanan kembali ke aula.
Sesaat mereka berdua sampai di bendungan mereka memutuskan untuk membersihkan sendal dan kakinya yang kotor terkena tanah liat.
"Ayo pen ikutan berisihin sepatu", ajak Ferawan.
"Enggak takut jatoh?", tanya Fenny.
"Enggak, ada gue. Nanti kalo jatoh ya gue tinggal hahahah", ledek Ferawan.
"Ha Ha Ha Lucu", jawab Fenny dengan kesal.
"Ya udah sih pen. Ayo. Tenang aja. Ada gue.", ajak Ferawan sambil menjulurkan tangannya kepada Fenny. Fenny langsung memegang tangan Ferawan dan berjalan secara perlahan ke bawah.
Sesampainya dibawah Fenny langsung berjongkok dan membersihkan sendalnya, sedangkan Ferawan masih berdiri untuk mencari batu yang dapat dia gunakan sebagai tumpuan kakinya. Saat menginjak batu tersebut Ferawan kepeleset dan hampir terjatuh, tapi untungnya Ferawan masih dapat mempertahankan badannya agar tidak terjatuh.
"Ihh Fer hati-hati makannya", protes Fenny.
"Iya iya", jawab Ferawan. "Eh ada yang berdarah", lanjut Ferawan sambil menyiram air danau yang keruh ke jempol kaki kanannya yang terluka sedikit.
"Tuh kan. Enggak hati-hati sih", protes Fenny lagi.
"Ya uda berdarah dikit doang", ucap Ferawan.
"Gue ada plester, mau?", tanya Mega salah satu teman sekelas Candy.
"Enggak usah lah, berdarah sedikit doang", jawab Ferawan.
"Ya udah kalo begitu", ucap Mega.
Mereka membersihkan lagi sendal yang kotor terkena tanah liat. Setelah cukup bersih mereka melanjutkan perjalanan kembali ke tempat awal berjalan. Saat perjalanan dibendungan Ferawan mlihat pemandangan indah yang dulu pernah terkena banjir dari bendungan yang pernah runtuh.
"Pemandangannya indah ya", ucap Ferawan.
"Iya. Indah", sahut Fenny.
"Eh itu kan CDB Serpong yang gedungnya tinggi", ucap Ferawan sambil menunjuk gedung yang disebutnya.
"Emang iya?", tanya Fenny.
"Iya. Berarti deket yah. Tapi kenapa lewat jalan tol yang ke Jakarta?", tanya Ferawan.
"Mana gue tahu. Tanya pak supirnya lah", jawab Fenny dengan sedikit kesal.
"Ya udah sih", protes Ferawan.
"Ya udah. Ayo lanjut lagi jalannya", ajak Fenny.
"Ada yang bawa uang enggak?", tanya Candy.
"Enggak Can", jawab Fenny dan Ferawan.
"Gue bawa kok", sahut Mega.
"Beli susu nasional yuk!", ajak Candy.
"Ayo", jawab Mega menerima tawaran Candy.
"Susu nasional kan enak", ucap Ferawan kepada Fenny.
"Iya, sering dulu beli", jawab Fenny.
"Iya, sama hahaha", ucap Ferawan. "Mau dong. Talangin dulu, Ga", lanjut Ferawan setelah menghampiri Mega dan Candy.
"Sekalian, Ga", sajut Fenny.
"Ya udah bang 2 lagi" ucap Mega kepada penjual susu nasional tersebut.
"Makasi ya Ga. Nanti gue ganti", sahut Ferawan.
"Oke", jawab Mega.
Mereka melanjutkan perjalanan lagi. Tidak beberapa lama dari jalan berbatu, terdapat jalan bertanah merah lagi.
"Ya elah males kan tanah merah lagi", protes Fenny.
"Ya udalah. Kita lewat pinggiran aja. Biar enggak terlalu kotor", ucap Ferawan.
"Tapi kan sama aja kotor lagi ah", protes Fenny.
"Ya uda ayo lah!", ucap Ferawan sambil menarik tangan Fenny.
Mereka berjalan melewati pinggir kiri jalan yang tidak terlalu basah tanahnya. Karena Fenny yang selalu membersihkan sendalnya. Candy dan Mega berjalan tidak terlihat lagi punggungnya. Sampai akhirnya Rima dan teman-temannya jalan melalui Ferawan dan Fenny.
"Ngapain pake sendal. Nanti kotor lagi", ucap Rima.
"Iya sih tp uda terlanjur", jawab Ferawan.
"Gue sih mending cuci kaki daripada cuci sendal", ucap Rima lagi.
"Iya sih bener juga. Males cuci sendal", ucap Fenny
"Lepas yuk Fer", ucap Fenny kepads Ferawan.
"Ya sama aja udah tanggung kok", jawab Ferawan.
"Iya sih", jawab Fenny.
Rima terus berjalan. Diikuti dengan Ai dan Della sahabat Jenongbelle-nya Rima.
"Ngpain pake sendal Fer?", ucap Della.
"Uda terlanjur", jawab Ferawan.
"Mending lepas aja Fer", ucap Della.
"Sama aja nanti sama-sama kotor", ucap Ferawan.
"Iya juga sih", jawab Della.
"Mau lepas sendal engga Fen?", tanya Ferawan kepada Fenny.
"Ya terserah", jawab Fenny.
"Ayolah. Lepas sendalnya", ucap Ferawan.
"Ya udah", jawab Fenny
Mereka berdua melepas sendal dan terus berjalan. Dibelakang mereka terdengan suaranya teman-teman yang tidak asik baginya. Suara yang semakin mendekat akhirnya menjadi berada tepat dibelakang Fenny dan Ferawan. Teriakan-teriakan muncul untuk membangkitkan semangat teman-temannya. Mereka terus berjalan hingga akhirnya sampai dijalan raya menuju pintu masuk ke dalam area permaninan outbound. Sebelum masuk kedalam, Fenny dan Ferawan menuju supir bis yang ada untuk menanyakan sepatu Fenny yang hilang pada hari pertama outbound. Ternyata supir outbound itu menemukan sepati yang hilang tersebut dan menyimpannya. Fenny sangat senang dengan ditemukannya sepatu Fenny sebelah kiri yang hilang.
"Yey sepatunya ketemu. Enggak jadi diomelin sama mama", ucap Fenny.
Ferawan tidak menjawabnya. Dia hanya tersenyum. Setelah diberikannya sepatu Fenny yang bagian kiri mereka jalan menuju area outbound untuk sarapan. Fenny pergi ke tendanya terlebih dahulu sebelum sarapan. Ferawan langsung menuju aula dimana tempat semua teman-temannya sarapan. Menunya adalah nasi uduk dengan telor dari opor ayam. Salah satu favorit Ferawan adalah telor dari opor ayam. Tetapi dia merasa kurang nikmat jika tidak ada opor ayamnya. Tapi hanya itulah yang tersedia. Setelah menghabiskan sarapannya Fenny menuju tempat dimana Fanny, Irene, dan yang lainnya berada. Mereka bercakap-cakap mengenai hal yang tidak penting.
"Ferawan besok masuk engga?", tanya Maria Tiffani salah satu teman sekelas Ferawan.
"Masuk. Tiffani masuk enggak?", tanya Ferawan.
"Enggak. Males. Capek pasti", jawab Tiffani.
Ferawan hanya menganggukkan kepalanya. Mereka terus berbicara hal-hal yang kurang penting dengan sedikit candaan. Mereka disuruh untuk berkumpul dan akan diadakan games. Mereka berkumpul dengan kelompoknya masing-masing. Permainan kerja sama, berpikir,dan kesabaran. Dari permainan itu tidak ada satupun tim yang memenangkannya. Setelah permainan selesai, siswa-siswi diberi waktu untuk melakukan berisih-bersih, merapihkan barang bawaan, dan mandi serta bersiap-siap untuk pulang.
"Kita ketemu lagi ya di sekolah nanti", ucap Fenny kepada Ferawan.
"Okay", jawab Ferawan. Tiba-tiba muncul dibenak Ferawan *kayaknya sih enggak bakal ketemu*. Itu hal yang muncul di pikiran Ferawan. Ferawan telah membereskan barang-barangnya sebelum permainan terakhir. Ia hanya menunggu sampai waktu berkumpul di aula sebelum perjalanan menuju sekolah. Tiba-tiba muncul perasaan dimana dia merasa sendiri dan tidak memiliki teman. Perasaan yang sangat dibenci Ferawan. Perasaan yang menakutkannya. Membuatnya sedih. Selama persiapan sebelum pulang Ferawan hanya berdiam diri saja. Tidak berkata sedikit pun. Setiap ditanya kenapa, Ferawan akan selalu menjawab "Enggak apa-apa" itu adalah kata-kata yang akan selalu keluar dari mulutnya. Setelah waktu tiba untuk pulang kembali ke sekolah. Ferawan sempat melihat Fenny tetapi Fenny tidak melihat Ferawan. Ferawan tidak menyapanya karena Fenny sedang berbicara dengan orang lain. Ferawan hanya melaluinya tanpa melihatnya. Seluruh siswa dikumpulkan berbaris sesuai dengan kelas masing-masing. Diabsen dan siap untuk berangkat. Mereka masuk ke bis sesuai kelas yang ditentukan. Ferawan duduk dengan Thelie yang ada di ujung kursi. Ferawan tertidur didalam perjalanan. Tidak tahu ada yang terjadi selama perjalanan. Setelah terbangun bis yang ditumpanginya telah sampai di Serpong dan akan sampai di sekolah tidak lama lagi. Ferawan hanya terdiam dalam perjalanan. Memikirkan hal yang selalu mengganggunya. Sesampai di sekolah Fenny terlihat dibonceng oleh seorang lelaki yang langsung pulang menuju rumahnya. Ferawan menunggu hingga Kokonya tiba di sekolah. Tidak beberapa lama akhirnya kokonya tiba di sekolah. Ferawan pulang ke rumah dengan lelah.
***
Esokkan harinya. Masuk sekolah seperti biasa. Pikiran yang terus menghantuinya membuatnya sangat sedih. Dari kelasnya hanya 7 orang yang hadir dikelasnya.
"Weh gila ini mah sepi banget. Les private ini mah", ucap Ferawan sebelum guru masuk.
"Iyalah. Pada males kali masuk sekolah.", sahut Romi salah satu teman sekelas Ferawan yang masuk pada hari itu.
"Iyalah pasti. Pada cape gara-gara outbound kemaren", sahut Renardi
Ferawan tidak berbicara lagi setelah itu karena guru sudah berjalan menuju kelasnya.
Pelajaran berlangsung sampai dengan pukul 10.30. 30 menit sebelum pulang seluruh siswa yang hadir disuruh untuk membereskan meja-meja yang akan digunakan sebagai meja UAN kelas XII. Setelah Ferawan dan 6 temannya yang hadir selesai merapihkan meja, Ferawan menuju kelas X4 dimana Fenny berada.
"Engga balik?", tanya Fenny
"Bentar lagi", jawab Ferawan.
Tak ada jawaban dari Fenny. Didalam benaknya Ferawan menyanyikan sebuah lagu yang dia suka yang berjudul "Price tag" salah satu lagi kesukaan Fenny. Meskipun mereka suka dengan lagu yang sama banyak orang yang menganggap mereka pacaran. Tetapi mereka tidak berpacaran. Memang Ferawan sempat menyukai Fenny tetapi Ferawan lebih memilih untuk bersahabat dengan Fenny.
"Balik yuk," ajak Fenny
"Ayo. Sebentar ambil tas dulu," jawab Ferawan.
"Okay," seru Fenny.
Setelah mengambil tas Ferawan berjalan kearah Fenny dan jalan menuruni lantai yang cukup tinggi dari tanah.
"Enggak bisa turun. Gimana turunnya," ucap Fenny.
Ferawan hanya mengulurkan tangannya tanpa berkata apapun. Fenny langsung mengambil tangan Ferawan dan berusaha untuk turun dari lantai yang tinggi itu.
Sebelum turun ada seseorang siswi kelas X yang menanyakan
"Kalian pacaran ya?",tanya siswi tersebut
"Enggak kok", jawab Ferawan sambil menggelengkan kepala
"Enggak", jawab Fenny.
"Oh. Kirain pacaran", ucap siswi tersebut.
"Enggak kok", jawab Ferawan sambil tersenyum
Tanpa ada percakapan lagi Ferawan dan Fenny berjalan bersama menuju parkiran untuk pulang kerumahnya. Mereka berdua berpisah didepan gerbang sekolah.
Saat perjalanan kerumah Ferawan masih merasa kesepian dan seperti tidak memiliki teman.
Sampai sekarang Ferawan masih berteman dengan Fenny, Candy, Rima, dan yang lainnya. Tetapi meskipun tetap berteman baik dengan teman-temannya, Ferawan masih merasa kesepian , tidak memiliki teman, dan sedih jika sedang sendirian terlebih jika berada di sekolah. Ferawan selalu berpura-pura menutupi kesedihannya itu dengan tawa yang keluar dari dirinya. Meskipun pernah ia menyadari bahwa sorot matanya terlihat sangat sedih ketida dia tertawa. Tetapi Ferawan masih bersyukur karena dia memiliki teman yang masi peduli kepadanya meskipun terkadang merasa kesepian dan seperti tidak memiliki teman iya tetap mensyukuri hal itu.
***
"Aku berangkat ya, Mi", ucap Ferawan setelah siap untuk berangkat ke sekolah.
"Makan dulu,Fer.", jawab mamanya Ferawan.
"Ga usah,Mi. Nanti beli aja di kantin, hehehe.", jawab Ferawan yang sudah siap berangkat ke sekolah.
"Ya sudah, hati-hati ya nak.", seru mama Ferawan
"Iya Mami", jawab Ferawan.
***
"Halo, Fer", ucap Candy. Candy adalah salah satu teman Ferawan dari SMP yang sama.
"Hai, Can", seru Ferawan kepada Candy. Ferawan adalah laki-laki yang sangat akrab kepada siapa saja tetapi tidak kepada orang yang baru dia kenal. Di SMP Ferawan lebih akrab dengan teman-teman perempuannya daripada teman-teman lelakinya, karena Ferawan berpikir bahwa teman-teman lelakinya memiliki sifat yang kurang Ferawan sukai.
"Asik nih kita uda SMA. Lo pake celana panjang abu-abu, gue pake rok abu-abu. Asik ya. Hahah :)", ujar Candy.
"Ya begitu lah hahaha. Asik banget. Gue uda ngendarain motor loh", ucap Ferawan.
"Iyah ? Cieeeee. Asik dong bisa kemana aja hehehe", jawab Candy.
"Gak juga sih Can. Masih belum punya SIM jadi enggak bisa kemana-mana. Mungkin cuma pulang pergi ke sekolah", kata Ferawan dengan muka lemas.
"Hahaha. Iya sih ya udah lah enggak apa. Yang penting ke sekolah ngendarain motor. Hehehe. O iyah. Kita 1 kelas lagi gak ya?", ucap Candy. Saat kelas IX, Candy dan Ferawan berada di kelas yang sama.
"Haha iya iya. Semoga aja sih. Semoga sekelas juga sama si Fenny.", ucap Ferawan. Fenny adalah salah satu teman Ferawan yang cukup dekat. Mereka dekat karena mereka menjadi panitia YearBook atau buku tahunan di SMP dan mereka juga satu kelas di SMP.
"Amin deh amin. Hahaha", ujar Candy.
Mereka berdua berdiri bersama di depan pintu masuk ke sekolah bersama siswa-siswi SMA baru yang mereka tidak kenal. Asing, perasaan itu yang muncul dibenak Ferawan saat melihat siswa-siswi yang baru tersebut.
Ferawan masuk kedalam sekolah untuk melihat daftar dimana kelasnya berada selama satu tahun kedepan. Dia juga melihat nama dimana Candy, Fenny, dan teman-temannya diposisikan di kelas berapa. Nama yang pertama ditemukan adalah Fenny di X4 dan Candy di X6. Setelah lama mencari namana akhirnya Ferawan menemukan namanya di kelas X5. Dia satu kelas dengan Rinaldi. Rinaldi adalah salah satu teman kecil Ferawan dari kelas 4 SD. Rinaldi adalah laki-laki yang sesuai kriteria untuk dijadikan teman oleh Ferawan.
"Yah kita enggak sekelas,Can", ucap Ferawan dengan tidak bersemangat.
"Yahhhh. Sekelas juga enggak sama Fenny?",tanya Candy.
"Enggak dia X4. Gue X5. Lo X6. Pisah semua tapi kelas kita bersebelahan kok.", jawab Ferawan.
"Iya sihh. Tapi kan enggak asik. Enggak seru jadinya", ucap Candy.
"Iya sihh tapi mau gimana? Kita enggak bisa apa-apa", jawab Ferawan.
"Ya udalah kita jalanin aja dulu Can, Fer", ucap Fenny yang tiba-tiba berada di sebelah Candy.
"Iya deh.", ucap Candy dan Ferawan.
Bel berbunyi dan akhirnya mereka masuk ke kelas masing-masing.
***
Beberapa bulan setelah masuk sekolah. Fenny, Ferawan, dan Rima selalu bertiga. Rima juga teman Ferawan yang dekat karena satu kelas dan menjadi panitia YearBook. Mereka seperti tiga serangkai. Setiap istirahan makan bekal bertiga, Jajan di Kantin bertiga dan selalu bertiga. Tapi akhirnya Rima memiliki teman-teman baru di kelasnya dan mereka selalu bertigak yang dinamani Jenongbelle. Fenny juga memiliki kelompok pertemanan di kelasnya yang berinama Upilers. Tetapi tidak dengan Ferawan. Ferawan sulit sekali untuk bergaul dengan orang yang baru dikenalnya. Ferawan juga dekat dengan Candy. Tetapi setelah Candy memiliki kekasih kedekatan itu sedikit sirnah. Awalnya Ferawan mencoba untuk dekat dengan Rinaldi dan teman-teman sekelasnya seperti Fanny, Irene, dan Michelle. Mereka berteman. Tapi pertemanannya serasa berbeda. Terkadang Ferawan merasa kesepian tetapi perasaan itu tidak dia pedulikan sama sekali. Ferawan anggap perasaan kesepian itu biasa saja karena dia berpikir bahwa mereka telah SMA dan memiliki teman-teman baru.
***
Setelah 10 bulan menjalani pendidikan di SMA Thomas Aquino. Ferawan dan teman-teman satu angkatannya akan menjalani outbound di situ gintung Ciputat Tangerang. Dalam perjalanan ke tempat outbound yang menggunakan bus, Ferawan duduk sendiri dengan sedikit percakapan. Di bus Ferawan sangat diam dan tidak banyak bicara. Itu karena dia merasa kesepian dan sangat sedih entah apa penyebabnya yang membuatnya sedih. Tetapi Ferawan tidak pernah bisa untuk menangis. Saat sesampainya di Situ Gintung, angkatan kelas X berjalan kedalam tempat berkumpul untuk berkenalan dengan pembimbing dan membuat kelompok. Ferawan berkelompok dengan Fenny, Renardi, Arnold, Fanny, Bakpao, Anne, Ezra, Audrey, Stefan, Enru, Echi, Alvian, Karen, Nia. Saat melakukan outbound Ferawan selalu bersemangat untuk permainan yang berada diketinggian seperti, Flying fox, Elvis walk, dan Balance beam. Ferawan sangat bersemangat dengan permainan-permainan tersebut. Saat outbound Ferawan selalu bersama-sama dengan Fenny. Berjalan bersama dengan Fenny, makan, duduk, menceritakan sesuatu sampai dengan jalan sehat memutari daerah Situ Gintung. Itu adalah hal yang selalu diinginkan oleh Ferawan. Kebersamaan dengan sahabat. Keluhan-keluhan yang terungkap oleh Fenny saat jalan sehat. Segala sesuatu yang berhubungan dengan kebersamaan yang membuat Ferawan senang. Saat malam terakhir di Situ Gintung, dilaksanakan renungan. Ferawan berfikir bahwa dia memiliki teman yang peduli dengannya meskipun tidak selalu bersama, tapi dia senang dengan sahabat-sahabat yang ada dan peduli dengan dirinya. Tapi Ferawan berpikir betapa bodohnya dia karna telah berpikir kalau dia tidak memiliki teman. Saat setelah renungnan selesai Ferawan bangkit berdiri dan mencari Fenny dan Rima untuk menghampiri mereka. Tetapi sebelum Ferawan menghampiri mereka berdua, Fenny dan Rima menghampiri Ferawan dan memeluk Ferawan. Ferawan memeluk mereka berdua.
"Sorry ya Fer, Fen kalau gue ada salah selama ini", ucap Rima sambil menangis.
"Gue juga minta maaf ya Fer, Rim kalau emang gue ada salah sama kalian", ucap Fenny.
"Gue juga minta maaf sama kalian kalo gue ada salah. Kalo gue uda berperilaku buruk, uda buat kalian kesel. Maaf ya.", ucap Ferawan yang air matanya terbendung di matanya.
Mereka bertiga berpelukan diantara siswa-siswi yang saling meminta maaf kepada temannya. Meskipun memiliki teman-teman baru mereka tetap saja berteman. Mungkin.
***
Hari terakhir di Situ Gintung, diadakan jalan sehat memutari danau Situ Gintung yang cukup panjang. Ferawan dan Fenny berjalan beriringan. Perjalanan yang biasa saja berubah menjadi menyebalkan karena tanah merah yang selalu menempel di alas kaki.
"Ah maleskan tanah liatnya nempel-nempel di sendal ahh", ocehan Fenny.
"Ya udalah kotor dikit enggak apa. Sekali-kali ini. Jarang-jarang kan kayak begini. Hahaha", ujar Ferawan.
"Iya sih. Tapi kan males bersihinnya", sahut Fenny.
"Ya udah enggak usah dibersihin. Hahaha.", ejek Ferawan.
"Ish, ya udah sih", gerutu Fenny.
"Kan bercanda penny cuancuann", bela Ferawan. Penny cuancuann sebutan yang selalu diucapkan oleh Ferawan kepada Fenny.
"Iya iya becanda", gerutu Fenny.
Ferawan tidak menjawab apapun hanya diam dan terus berjalan.
"Dih tungguin", teriak Fenny.
"Lama si woo. Makanya jangan cuma ngambek", ejek Ferawan.
"Siapa yang ngambek kali dih", ucap Fenny
"Elo lah. Masa iya Mr. Joko?", jawab Ferawan
"Iya juga sih. Tp gue ga ngambek.", ucap Fenny
"Boong. Gue tau kok.", jawab Ferawan
"Tapi gue enggak ngambek", ujar Fenny
"Ya uda deh kalo begitu. Ayo jalan lagi. Hati-hati.", jawab Ferawan.
Fenny tidak menjawab. Ferawan dan Fenny meneruskan perjalanan kembali ke aula.
Sesaat mereka berdua sampai di bendungan mereka memutuskan untuk membersihkan sendal dan kakinya yang kotor terkena tanah liat.
"Ayo pen ikutan berisihin sepatu", ajak Ferawan.
"Enggak takut jatoh?", tanya Fenny.
"Enggak, ada gue. Nanti kalo jatoh ya gue tinggal hahahah", ledek Ferawan.
"Ha Ha Ha Lucu", jawab Fenny dengan kesal.
"Ya udah sih pen. Ayo. Tenang aja. Ada gue.", ajak Ferawan sambil menjulurkan tangannya kepada Fenny. Fenny langsung memegang tangan Ferawan dan berjalan secara perlahan ke bawah.
Sesampainya dibawah Fenny langsung berjongkok dan membersihkan sendalnya, sedangkan Ferawan masih berdiri untuk mencari batu yang dapat dia gunakan sebagai tumpuan kakinya. Saat menginjak batu tersebut Ferawan kepeleset dan hampir terjatuh, tapi untungnya Ferawan masih dapat mempertahankan badannya agar tidak terjatuh.
"Ihh Fer hati-hati makannya", protes Fenny.
"Iya iya", jawab Ferawan. "Eh ada yang berdarah", lanjut Ferawan sambil menyiram air danau yang keruh ke jempol kaki kanannya yang terluka sedikit.
"Tuh kan. Enggak hati-hati sih", protes Fenny lagi.
"Ya uda berdarah dikit doang", ucap Ferawan.
"Gue ada plester, mau?", tanya Mega salah satu teman sekelas Candy.
"Enggak usah lah, berdarah sedikit doang", jawab Ferawan.
"Ya udah kalo begitu", ucap Mega.
Mereka membersihkan lagi sendal yang kotor terkena tanah liat. Setelah cukup bersih mereka melanjutkan perjalanan kembali ke tempat awal berjalan. Saat perjalanan dibendungan Ferawan mlihat pemandangan indah yang dulu pernah terkena banjir dari bendungan yang pernah runtuh.
"Pemandangannya indah ya", ucap Ferawan.
"Iya. Indah", sahut Fenny.
"Eh itu kan CDB Serpong yang gedungnya tinggi", ucap Ferawan sambil menunjuk gedung yang disebutnya.
"Emang iya?", tanya Fenny.
"Iya. Berarti deket yah. Tapi kenapa lewat jalan tol yang ke Jakarta?", tanya Ferawan.
"Mana gue tahu. Tanya pak supirnya lah", jawab Fenny dengan sedikit kesal.
"Ya udah sih", protes Ferawan.
"Ya udah. Ayo lanjut lagi jalannya", ajak Fenny.
"Ada yang bawa uang enggak?", tanya Candy.
"Enggak Can", jawab Fenny dan Ferawan.
"Gue bawa kok", sahut Mega.
"Beli susu nasional yuk!", ajak Candy.
"Ayo", jawab Mega menerima tawaran Candy.
"Susu nasional kan enak", ucap Ferawan kepada Fenny.
"Iya, sering dulu beli", jawab Fenny.
"Iya, sama hahaha", ucap Ferawan. "Mau dong. Talangin dulu, Ga", lanjut Ferawan setelah menghampiri Mega dan Candy.
"Sekalian, Ga", sajut Fenny.
"Ya udah bang 2 lagi" ucap Mega kepada penjual susu nasional tersebut.
"Makasi ya Ga. Nanti gue ganti", sahut Ferawan.
"Oke", jawab Mega.
Mereka melanjutkan perjalanan lagi. Tidak beberapa lama dari jalan berbatu, terdapat jalan bertanah merah lagi.
"Ya elah males kan tanah merah lagi", protes Fenny.
"Ya udalah. Kita lewat pinggiran aja. Biar enggak terlalu kotor", ucap Ferawan.
"Tapi kan sama aja kotor lagi ah", protes Fenny.
"Ya uda ayo lah!", ucap Ferawan sambil menarik tangan Fenny.
Mereka berjalan melewati pinggir kiri jalan yang tidak terlalu basah tanahnya. Karena Fenny yang selalu membersihkan sendalnya. Candy dan Mega berjalan tidak terlihat lagi punggungnya. Sampai akhirnya Rima dan teman-temannya jalan melalui Ferawan dan Fenny.
"Ngapain pake sendal. Nanti kotor lagi", ucap Rima.
"Iya sih tp uda terlanjur", jawab Ferawan.
"Gue sih mending cuci kaki daripada cuci sendal", ucap Rima lagi.
"Iya sih bener juga. Males cuci sendal", ucap Fenny
"Lepas yuk Fer", ucap Fenny kepads Ferawan.
"Ya sama aja udah tanggung kok", jawab Ferawan.
"Iya sih", jawab Fenny.
Rima terus berjalan. Diikuti dengan Ai dan Della sahabat Jenongbelle-nya Rima.
"Ngpain pake sendal Fer?", ucap Della.
"Uda terlanjur", jawab Ferawan.
"Mending lepas aja Fer", ucap Della.
"Sama aja nanti sama-sama kotor", ucap Ferawan.
"Iya juga sih", jawab Della.
"Mau lepas sendal engga Fen?", tanya Ferawan kepada Fenny.
"Ya terserah", jawab Fenny.
"Ayolah. Lepas sendalnya", ucap Ferawan.
"Ya udah", jawab Fenny
Mereka berdua melepas sendal dan terus berjalan. Dibelakang mereka terdengan suaranya teman-teman yang tidak asik baginya. Suara yang semakin mendekat akhirnya menjadi berada tepat dibelakang Fenny dan Ferawan. Teriakan-teriakan muncul untuk membangkitkan semangat teman-temannya. Mereka terus berjalan hingga akhirnya sampai dijalan raya menuju pintu masuk ke dalam area permaninan outbound. Sebelum masuk kedalam, Fenny dan Ferawan menuju supir bis yang ada untuk menanyakan sepatu Fenny yang hilang pada hari pertama outbound. Ternyata supir outbound itu menemukan sepati yang hilang tersebut dan menyimpannya. Fenny sangat senang dengan ditemukannya sepatu Fenny sebelah kiri yang hilang.
"Yey sepatunya ketemu. Enggak jadi diomelin sama mama", ucap Fenny.
Ferawan tidak menjawabnya. Dia hanya tersenyum. Setelah diberikannya sepatu Fenny yang bagian kiri mereka jalan menuju area outbound untuk sarapan. Fenny pergi ke tendanya terlebih dahulu sebelum sarapan. Ferawan langsung menuju aula dimana tempat semua teman-temannya sarapan. Menunya adalah nasi uduk dengan telor dari opor ayam. Salah satu favorit Ferawan adalah telor dari opor ayam. Tetapi dia merasa kurang nikmat jika tidak ada opor ayamnya. Tapi hanya itulah yang tersedia. Setelah menghabiskan sarapannya Fenny menuju tempat dimana Fanny, Irene, dan yang lainnya berada. Mereka bercakap-cakap mengenai hal yang tidak penting.
"Ferawan besok masuk engga?", tanya Maria Tiffani salah satu teman sekelas Ferawan.
"Masuk. Tiffani masuk enggak?", tanya Ferawan.
"Enggak. Males. Capek pasti", jawab Tiffani.
Ferawan hanya menganggukkan kepalanya. Mereka terus berbicara hal-hal yang kurang penting dengan sedikit candaan. Mereka disuruh untuk berkumpul dan akan diadakan games. Mereka berkumpul dengan kelompoknya masing-masing. Permainan kerja sama, berpikir,dan kesabaran. Dari permainan itu tidak ada satupun tim yang memenangkannya. Setelah permainan selesai, siswa-siswi diberi waktu untuk melakukan berisih-bersih, merapihkan barang bawaan, dan mandi serta bersiap-siap untuk pulang.
"Kita ketemu lagi ya di sekolah nanti", ucap Fenny kepada Ferawan.
"Okay", jawab Ferawan. Tiba-tiba muncul dibenak Ferawan *kayaknya sih enggak bakal ketemu*. Itu hal yang muncul di pikiran Ferawan. Ferawan telah membereskan barang-barangnya sebelum permainan terakhir. Ia hanya menunggu sampai waktu berkumpul di aula sebelum perjalanan menuju sekolah. Tiba-tiba muncul perasaan dimana dia merasa sendiri dan tidak memiliki teman. Perasaan yang sangat dibenci Ferawan. Perasaan yang menakutkannya. Membuatnya sedih. Selama persiapan sebelum pulang Ferawan hanya berdiam diri saja. Tidak berkata sedikit pun. Setiap ditanya kenapa, Ferawan akan selalu menjawab "Enggak apa-apa" itu adalah kata-kata yang akan selalu keluar dari mulutnya. Setelah waktu tiba untuk pulang kembali ke sekolah. Ferawan sempat melihat Fenny tetapi Fenny tidak melihat Ferawan. Ferawan tidak menyapanya karena Fenny sedang berbicara dengan orang lain. Ferawan hanya melaluinya tanpa melihatnya. Seluruh siswa dikumpulkan berbaris sesuai dengan kelas masing-masing. Diabsen dan siap untuk berangkat. Mereka masuk ke bis sesuai kelas yang ditentukan. Ferawan duduk dengan Thelie yang ada di ujung kursi. Ferawan tertidur didalam perjalanan. Tidak tahu ada yang terjadi selama perjalanan. Setelah terbangun bis yang ditumpanginya telah sampai di Serpong dan akan sampai di sekolah tidak lama lagi. Ferawan hanya terdiam dalam perjalanan. Memikirkan hal yang selalu mengganggunya. Sesampai di sekolah Fenny terlihat dibonceng oleh seorang lelaki yang langsung pulang menuju rumahnya. Ferawan menunggu hingga Kokonya tiba di sekolah. Tidak beberapa lama akhirnya kokonya tiba di sekolah. Ferawan pulang ke rumah dengan lelah.
***
Esokkan harinya. Masuk sekolah seperti biasa. Pikiran yang terus menghantuinya membuatnya sangat sedih. Dari kelasnya hanya 7 orang yang hadir dikelasnya.
"Weh gila ini mah sepi banget. Les private ini mah", ucap Ferawan sebelum guru masuk.
"Iyalah. Pada males kali masuk sekolah.", sahut Romi salah satu teman sekelas Ferawan yang masuk pada hari itu.
"Iyalah pasti. Pada cape gara-gara outbound kemaren", sahut Renardi
Ferawan tidak berbicara lagi setelah itu karena guru sudah berjalan menuju kelasnya.
Pelajaran berlangsung sampai dengan pukul 10.30. 30 menit sebelum pulang seluruh siswa yang hadir disuruh untuk membereskan meja-meja yang akan digunakan sebagai meja UAN kelas XII. Setelah Ferawan dan 6 temannya yang hadir selesai merapihkan meja, Ferawan menuju kelas X4 dimana Fenny berada.
"Engga balik?", tanya Fenny
"Bentar lagi", jawab Ferawan.
Tak ada jawaban dari Fenny. Didalam benaknya Ferawan menyanyikan sebuah lagu yang dia suka yang berjudul "Price tag" salah satu lagi kesukaan Fenny. Meskipun mereka suka dengan lagu yang sama banyak orang yang menganggap mereka pacaran. Tetapi mereka tidak berpacaran. Memang Ferawan sempat menyukai Fenny tetapi Ferawan lebih memilih untuk bersahabat dengan Fenny.
"Balik yuk," ajak Fenny
"Ayo. Sebentar ambil tas dulu," jawab Ferawan.
"Okay," seru Fenny.
Setelah mengambil tas Ferawan berjalan kearah Fenny dan jalan menuruni lantai yang cukup tinggi dari tanah.
"Enggak bisa turun. Gimana turunnya," ucap Fenny.
Ferawan hanya mengulurkan tangannya tanpa berkata apapun. Fenny langsung mengambil tangan Ferawan dan berusaha untuk turun dari lantai yang tinggi itu.
Sebelum turun ada seseorang siswi kelas X yang menanyakan
"Kalian pacaran ya?",tanya siswi tersebut
"Enggak kok", jawab Ferawan sambil menggelengkan kepala
"Enggak", jawab Fenny.
"Oh. Kirain pacaran", ucap siswi tersebut.
"Enggak kok", jawab Ferawan sambil tersenyum
Tanpa ada percakapan lagi Ferawan dan Fenny berjalan bersama menuju parkiran untuk pulang kerumahnya. Mereka berdua berpisah didepan gerbang sekolah.
Saat perjalanan kerumah Ferawan masih merasa kesepian dan seperti tidak memiliki teman.
Sampai sekarang Ferawan masih berteman dengan Fenny, Candy, Rima, dan yang lainnya. Tetapi meskipun tetap berteman baik dengan teman-temannya, Ferawan masih merasa kesepian , tidak memiliki teman, dan sedih jika sedang sendirian terlebih jika berada di sekolah. Ferawan selalu berpura-pura menutupi kesedihannya itu dengan tawa yang keluar dari dirinya. Meskipun pernah ia menyadari bahwa sorot matanya terlihat sangat sedih ketida dia tertawa. Tetapi Ferawan masih bersyukur karena dia memiliki teman yang masi peduli kepadanya meskipun terkadang merasa kesepian dan seperti tidak memiliki teman iya tetap mensyukuri hal itu.
***
aaa feraaa co cwit :)
BalasHapus